Wednesday, January 31, 2018

Malioboro: Never Ending Story - IAI Jogja Talkshow 2018

Malioboro adalah jantungnya kota Jogja. Pembicaraan tentang koridor sepanjang dua kilometer ini tidak pernah habis diperbincangkan, meskipun beberapa waktu lalu baru saja diresmikan penataan penggal kedua dari Pasar Beringharjo ke titik nol, namun bagi kalangan arsitek Jogja sendiri ini masih belum selesai. Masih banyak yang harus diperbincangkan entah itu identitas maupun bagaimana fungsi Malioboro itu sendiri dapat mengakomodasi kepentingan para stakeholdernya. Perbincangan yang diadakan di Jogja Gallery alun-alun utara ini dalam rangka memperingati 58 tahun IAI Jogja turut mengundang beberapa pembicara antara lain: Eko Agus Prawoto, Laretna Sita Adisakti dari Jogja Heritage Society, beberapa pakar perancangan kota, dan tokoh masyarakat Malioboro. Acara ini dimoderatori oleh Pak Uud Saifudin ketua IAI Jogja. Hadir juga ketua IAI nasional Pak Ahmad Djuhara yang juga memiliki kesempatan dalam memberikan pandangannya dalam diskusi ini.

Ada hal yang menarik dari cerita Pak Uud ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Jogja, beliau mengatakan kalau Malioboro harus ditiru di kota-kota Indonesia lainnya. Dengan penataan yang lebih baik bebas dari parkir motor, fasilitas ameniti ruang publik yang lebih banyak untuk pengunjung, sepertinya memang tidak ada ruang jalan model seperti Malioboro di Indonesia. Tapi apakah bisa Malioboro ditiru oleh kota-kota di Indonesia? Bagaimana bisa dipastikan kalau yang ditiru bukan fisiknya saja. Beberapa tempat di Jogja juga ada yang dipercantik dengan elemen bolard-bolard dan bangku duduk seperti di Malioboro, yang disebut oleh pembicara 'Malioboroisasi'.

Menata Malioboro artinya menata seluruh kota Jogja. Terlebih Jogja memiliki keunikan tradisi keraton dan merupakan salah satu kota pusaka. Dalam kesempatan ini Bu Sita mengutarakan hubungannya penataan kota ini secara lebih luas yang tercantum dalam Piagam Kota Pusaka 2013, beberapa faktor yang sangat berpengaruh antara lain:
  • Pemimpin kota; peran visi seorang pemangku kebijakan
  • Identitas; orang tahu di daerah tempat apa dia tinggal
  • Edukasi; informasi kepada warga tentang sejarah kota dulu dan sekarang.
  • Ekonomi
  • Bencana
  • Tata ruang dan sarana prasarana
  • Pola desain; di sini peran arsitek dibutuhkan.
Bagi Pak Eko Prawoto selama ini penataan selalu  identik dengan form terlebih dahulu, padahal menurut beliau elemen sosial yang harus ditata terlebih dahulu baru kemudian form. artinya ini tentang kesepakatan masyarakatnya untuk menentukan mana model pembangunan yang cocok bagi mereka. Jika dimulai dari form tanpa memperhatikan aspek sosial, apa yang bisa diharapkan dari form? selama ini perencanaan terlalu bergantung pada bentuk sehingga tidak dapat mewakili keinginan masyarakatnya. bentuk sebagai bagian dari kontribusi arsitek adalah satu peranan minoritas dalam perencanaan malioboro. Pendapat berbeda diutarakan ketua umum IAI Pak Ahmad Djuhara, beliau dalam hal yang disampaikan Pak Eko Prawoto tidak sependapat. Menurut beliau bagaimana penataan sosial akan dilakukan, apakah sarjana sosial dapat melakukannya? bagaimana wujudnya? Maka dari itu arsitek lah yang harus maju. Peran arsitek dalam memberikan bentuk menjadi sangat penting, terlepas dalam praktiknya form atau desain yang dihasilkan oleh si arsitek berhasil atau gagal. Jika perlu, tambah beliau, buatlah rencana yang provokatif semisal hilangkan pedagang kaki lima di sepanjang Malioboro, sekedar untuk memahami apakah ada 'nyawa' Malioboro yang akan hilang dengan rencana seperti itu. Jika iya, ya kebalikan lagi. 

Perencanaan perlu didahului dengan riset-riset menjadi penting. Terkait perbedaan pendapat mana yang didahulukan antara faktor form Pak Juhara atau faktor sosial Pak Eko saya teringat bahwa kedua hal ini tidak perlu dipisahkan atau didahulukan satu dengan lainnya. Jika kita melihat riset Bill Hillier dalam The Social Logic of Space (embrio teori dan metode Space Syntax) yang secara garis besar menyatakan adanya hubungan yang saling berkaitan antara aspek sosial dengan ruang yang dalam hal ini merupakan perwujudan fisik atau form. Dalam hal riset-riset seperti yang disampaikan Pak Eko kita bisa belajar dari yang sudah dilakukan orang luar, yakni mengintegrasikan kedua hal ini dalam perencanaan dan perancangan kota. Oleh karena itu, siapa pun arsitek yang berperan mengembangkan Malioboro tidak lepas dari laku riset atau memanfaatkan riset yang sudah ada dalam proses rancangannya.

Saat ini pemerintah sulit mencari tanah untuk pengembangan Malioboro. Kedepan, satu-satunya cara adalah pengembangan vertikal karena (dari peraturan pembangunan) masih ada batas sampai 8 lantai sehingga sekitar 4-5 lantai bisa diisi untuk residensial atau sewa. Di lain pihak Pak Eko mengingatkan kapasitas Malioboro pasti ada batasnya. Namun sejauh mana batas itu? Jangan sampai pengembangannya over capacity yang justru membuat Malioboro collapse. Karena setiap pengembangan tersebut pasti ada sesuatu yang akan dibayar kedepannya.

Acara malam itu ditutup dengan kesimpulan dari Pak Eko yang memutar tajuk utama acara ini yang semula: "Arsitek Bermartabat Kota Beradab" menjadi "Arsitek Beradab Kota Bermartabat". Kiranya arsitek  dengan visi rancangan yang baik akan ikut membuat kota menjadi lebih bermartabat. Demikian.

Dokumentasi acara:

Jogja Gallery, 30 Januari 2018

Perbincangan di sela break acara
antara pak Eko Prawoto (berkemeja hitam) dan pak Ahmad Djuhara (berkaos hitam)
Acara juga dihadiri ketua-ketua IAI dari Padang, Makassar, Bali dan Papua
serta ketua IAI nasional periode sebelumnya.

Sunday, January 28, 2018

Arsitektur Indonesian Jaman Now

Sebenarnya gagasan tulisan pada paragraf di bawah ini sudah saya buat sejak tahun 2011 dengan judul awal 'Indonesian Architecture Now', namun tulisan ini belum sempat di-posting dan masih tersimpan di draft sampai beberapa hari yang lalu. Indonesia Architecture Now sendiri tak lain adalah sebuah majalah arsitektur yang namanya saya ambil sebagai judul untuk menggambarkan perspektif saya dalam melihat arsitektur indonesia dengan perhatian pada media cetak populer yang cenderung memberikan ulasan suatu karya arsitektur agar terlihat selalu sempurna. Judul tulisan ini saya ganti-tambah dengan frasa yang viral sepanjang 2017 kemarin, menjadi 'Arsitektur Indonesia Jaman Now'. 

.  .  .  .  .


Ulasan tanpa cela(h)

Sebenarnya saat saya menulis tentang ini, saya pribadi mulai terasa jenuh dengan majalah desain arsitektur yang sebagaimana kita ketahui selalu menyajikan review tentang hal yang 'baik-baik', seolah bangunan yang direview itu sempurna.mereview karya-karya arsitek indonesia kekinian dengan citra yang indah seolah tidak menyisakan tempat untuk dikritik. Barangkali memang begitulah tugas daripada majalah desain arsitektur, mana mungkin menampilkan sisi negatif dari bangunan yang direviewnya. Apalagi saat ini bukan saja wartawan majalah yang keliling mencari desain yang bagus untuk dijadikan konten, tapi juga dari sisi si arsitek yang mengajukan desainnya untuk diliput oleh majalah, tidak lain untuk kepentingan promosi. Hal itulah yang membuat sebuah majalah mereview hal yang bagus-bagus saja, karena semua ini adalah tentang publikasi jasa arsitek. Hm..saya benci memperoleh jawaban seperti ini dengan cepat, apalagi agaknya terkesan tidak ada yang salah dengan itu. 

Namun kejenuhan saya ini patut dicari sebab lainnya. Seiring semakin luasnya jangkauan informasi yang update seputar dunia arsitektur dan maraknya even-even regional atau internasional seperti design competition dalam satu dekade terakhir yang diikuti orang indonesia maupun warga Asean lainnya membuat mata kita semakin terbuka dengan kualitas desain-desain dari luar. Di lingkup negara tetangga saja kalau kita lihat, seperti Vietnam atau Malaysia, meskipun sama-sama dipengaruhi kondisi tropis dan kelokalan dalam spirit modern, namun kesan pertama yang kita lihat agaknya mudah untuk membedakan mana desain yang dibuat arsitek indonesia dengan desain yang dibuat arsitek luar dimana ciri, bentuk dan pengolahan detail mereka lebih progresif dari arsitek Indonesia.


Perlumbaan menjadi beken

Saya kira tidak ada jamannya selain saat ini dimana arsitek-arsitek muda berlomba-lomba untuk dikenal luas oleh bayak orang. Peran media sosial sangat besar. Akhir-akhir ini saya mulai melihat kemudian berpikir beberapa pekerjaan arsitek di lingkungan lokal indonesia. seperti ada kecenderungan untuk menjadi ingin dikenal dengan beberapa desain yang menurut saya berkesan sophisticated dari luar. saya meragukan ini datang dari si perancang sendiri. jaman mulai maju perkembangan dunia konstruksi di indonesia mulai dapat mengikuti kemauan bentuk yang diinginkan seorang perancang bangunan. intinya dengan kemampuan konstruksi yang ada semua bisa dibangun menjadi kenyataan sesuai apa yang diimpikan. tapi hasil rancangan yang muncul adalah impor an yang pernah ada di barat sana. kesan canggih oleh arsitek yang baru menapak karir bisa menjadi terkenal dengan ide 'baru' nya.

Konsep dibaliknya yang gak bikin asik 
Karyanya bagus dan awalnya biasa saja namun ketika konsep dibalik karya itu diceritakan dalam oleh si arsitek ternyata menjadi tidak menarik. hal ini menjadi berkesan paradoks atau kontradiktif, antara desain akhir dengan konsep memiliki hubungan yang tidak logis, bagaimana bisa? padahal arsitektur yang baik, bagus memilki latar belakang proses yang menarik juga untuk dikaji. Dengan proses transformasi bentuk yang terkesan masih 'lugu' untuk ukuran seorang arsitek level atas yang hanya mungkin dilakukan oleh mahasiswa arsitektur semester awal.

Wajah arsitektur indonesia jaman Now
Namun arus pergerakan arstitektur yang berfokus pada bentuk dan matrial bahan bangunan sangat cepat. saya hanya merasa berdiam sejenak dan memikirkan apa arsitektur harus seperti ini?..is this what architecture all about..?? apakah diskursus arsitektur kita hanya seputar modifikasi susunan bata saja? 
Saya menduga kemajuan arsitektur sebuah negara selalu beriringan dengan membudayanya kritik arsitektur di negara tersebut. budaya tersebut tidak hanya berputar di kalangan yang mengerti arsitektur tapi juga masyarakat awam. Kembali lagi ke media cetak. bagiamana  media bisa berperan untuk memajukan arsitektur kalau tidak ikut mengkritik dan hanya menjadi media penyalur saya oleh arsitekt untuk menjadi terkenal untuk sekedar media promosi profesi. 


Sunday, December 31, 2017

Keambiguan dan Kontradiksi dalam Arsitektur

Sebelum munculnya pengkategorian arsitektur post-modern oleh Charles Jencks, Robert venturi dalam bukunya complexity and contradiction in architecture menggambarkan beberapa karakteristik dari arsitektur. Venturi berpendapat bahwasannya arsitektur melalui wujud bentuknya (pada dasarnya dan seharusnya) memiliki makna yang majemuk. Tidak seperti arsitektur modern yang bermakna tunggal dengan bentuk kotak kubus bermaterial kaca dan baja tanpa rasa budaya dan keunikan kompleksitas.

Saturday, December 30, 2017

Program dan Pemisahan

Ada cara lebih jauh untuk mengeksplorasi hubungan yang tidak mungkin antara arsitektur dan program.

Crossprogramming: menggunakan konfigurasi spasial tertentu untuk sebuah program yang tidak dimaksudkan untuk itu, yaitu dengan menggunakan gedung gereja untuk bowling. mirip dengan pemindahan tipologis: balai kota di dalam konfigurasi ruang penjara atau museum di dalam struktur tempat parkir.

Transprogramming: menggabungkan dua program, terlepas dari ketidaksesuaian mereka, bersama dengan konfigurasi spasial masing-masing. referensi: planetarium + rollercoaster.

Disprogramming: menggabungkan dua program, di mana konfigurasi spasial yang diperlukan dari program A mencemari program B dan konfigurasi yang mungkin dari B. program baru B dapat diambil dari kontradiksi yang melekat yang ada dalam program A, dan konfigurasi ruang B yang diperlukan dapat diterapkan pada A.

Mengenal Arsitektur Dekonstruksi

Pameran Arsitektur Dekonstruksi, MoMA, New York, 1988.
Arsitektur 'dekonstruktivist' berfokus pada tujuh arsitek internasional yang karya barunya menandai kemunculan sensibilitas baru dalam arsitektur. Para arsitek tersebut mengenali ketidaksempurnaan dunia modern dan berusaha untuk mengatasi, yang meminjam kata-kata Philip johnson, "the pleasures of unease", kesenangan dalam masa kegelisahan. 

Karya-karya arsitek tersebut terobsesi dengan diagonal, busur, dan bidang yang melengkung, mereka dengan sengaja menyalahgunakan kubus dan sudut siku (arsitektur) modernisme. Proyek mereka melanjutkan eksperimen dengan struktur yang diprakarsai oleh konstruktivisme Rusia, namun tujuan penyempurnaan konstruktivisme pada tahun 1920an ditumbangkan. 

Keutamaan asas-asas tradisional arsitektur seperti; keharmonisan, kesatuan, dan kejelasan digantikan oleh ketidakharmonisan, patahan, dan misteri.

Pameran ini mencakup gambar, model, dan rencana lokasi untuk proyek terbaru (saat itu) dari coop himmelblau, peter eisenman, Frank Gehry, Zaha M. Hadid, Rem Koolhaas, Daniel Libeskind, dan Bernard Tschumi. 

Tips, Saran dan Pendekatan Frank Gehry dalam Mendesain

Frank Gehry adalah salah satu arsitek favorit saya. Bukan karena bentuknya yang mengagumkan dan berani sekaligus berontak. Banyak hal penting yang bisa dipelajari dari filosofi desain beliau. Gehry selalu berpendapat; if you know what you’re gonna do in advance then you won’t do it. Jika kamu tahu apa yang akan dilakukan sebelumnya maka jangan lakukan. Dalam hal ini Gehry menekankan untuk melakukan hal yang berbeda dari yang sudah pernah dilakukan. Saya kira itu kunci inovasi arsitektur Gehry.

Nah, sebagian arsitek seperti yang kita ketahui lebih cenderung berpikir umum, ia sudah membayangkan suatu bentuk ‘A’ adalah bentuk yang cocok dengan tipologi bangunannya maka bentuk itulah yang akan diselesaikannya. 

Di sini kita melihat bahwa arsitek terbagi pendekatan perancangannya ke dalam dua; glass box dan black box. Definisi pendekatan yang pertama adalah kamu tahu diawal hasil akhirnya semudah melihat isi di dalam kotak kaca yang jernih, sedangkan definisi kedua adalah kamu tidak tahu akan seperti apa cerita akhirnya. Dalam kaitannya dengan gehry saya kira beliau masuk dalam pendekatan black box. Mengapa? Karena beliau tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah dilakukannya sebelumnya. 

Kreativitasmu mulai dengan apakah kamu penasaran atau tidak.
Ketika kamu membuat sebuah bangunan, apapun itu, mulailah dengan model blok yang sederhana untuk melihat arahnya kemana. Kebanyakan kota-kota dibangun dengan bangunan kota kaca tanpa wajah karena pertimbangan ekonomi bukan karena rasa kemanusiaan.
Sebagaimana artis, gehry juga memiliki hambatan dalam rancangan. Salah satunya adalah gravitasi. Namun dalam hambatan ini ia masih memiliki 15 persen kebebasan untuk mewujudkan citra seninya.

Gehry selalu mencoba mengekpresikan gerakan pada bangunannya. Beliau sangat senang dengan bentuk lipatan yang merupakan rasa mendasar terhadap cinta dan kehangatan. Ide seperti ini adalah hal paling menakutkan untuk diceritakan kepada klien yang dapat menolak dan mereka pasti akan menolaknya. 

Namun demikian seorang arsitek harus menemukan ‘suara’ kita sendiri, ciptakan logika dari bentuk tersebut sambil berjalan, kemudian luaskan maknanya.

Gehry meminta kepada para arsitek khususnya yang muda-muda untuk berjanji, apapun proyek yang kamu desain lakukanlah demi kepentingan rasa kemanusiaan. 

Tulisan terkait: 'pure shit' frank gehry

Tuesday, February 28, 2017

Shelter Of Healing - Gagasan Fasilitas untuk Korban Bencana Gempa Aceh





Aceh kembali ditimpa bencana gempa menjelang akhir tahun 2016. Kali ini di Pidie Jaya. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY membentuk satgas sebagai respons cepat dampak bencana melalui kontribusi gagasan desain implementatif berupa bangunan bersifat sementara di lahan seluas 100 m2 dengan sistem modular, multifungsi dan kebutuhan utilitas yang memadai. Gagasan berikut merupakan kumpulan set ruang yang bisa dimanfaatkan berbagai kegiatan sosial pendidikan supaya bisa mengangkat kondisi warga korban gempa secara moril.




Konsep
Memunculkan ketenangan dan harapan kepada pengguna (khususnya kepada orang tua dan anak-anak); Memasukkan unsur alam (air dan tanaman) sebagai elemen pemulihan trauma melalui konsep inner court; Kumpulan ruang multifungsi yang rekat dengan lingkungan sekitarnya sehingga menjadi bagian kegiatan keseharian warga.

Konsep beberapa program ruang tidak lah fix sehingga bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan warga untuk kepentingan sosial, kesehatan, pendidikan, budaya, mck, penunjang ibadah, rth, dsb:
  1. Ruang Duduk / Pintu Utama 10,5 m2
  2. Perpustakaan 9 m2
  3. Taman Pendidikan Al Quran / Ruang Baca 18 m2
  4. MCK Komunal dan tempat wudhu 9 m2
  5. Dapur Umum 10,5 M2
  6. Paud / Rapat Warga / Pingpong 27 m2
  7. Inner Court ( Taman, Kolam Ikan) 21,5 m2
  8. Jalur Pejalan Kaki ( jalan alternatif)
  9. Kantor / P3K / Warung/ Ruang Alat, dll. 9 m2
  10. Ruang mural (dinding outdoor/indoor)




Adapun rencana biaya pembangunan terhitung Rp 81.824.519.00,- masih masuk dari batasan biaya yang ditetapkan sebesar 85 juta rupiah.

.

.

Desain     : Renaldi Abdul Halid, ST. MSc
RAB        : Darsan Andi, ST.