Sunday, April 17, 2016

Tentang Sebuah Masjid: Aktifitas Dan Ruang


Tanpa Pintu

Masjid tanpa pintu tidak akan membuat orang yang sholat terakhir bimbang masjid akan ditutup. Oleh karenanya dia lebih tenang dalam sholat dan tidak terburu-buru karena tidak ada yang akan menutup pintu atau merasa ada seorang (penjaga) yang menunggu sholatnya selesai yang akan segera menutup pintu masjid. Pikiran ditutup dari luar sementara lampu dimatikan, atau merasa tidak nyaman dengan penjaga karena agak lama dalam ibadah, terkadang membuat kekhusyuaan sholat terinterupsi. Jadi ini kelebihan daripada masjid tanpa (daun) pintu. Dia bisa menyelesaikan ibadahnya dengan normal. Sholatnya lebih plong tanpa terbebani atau khawatir, se-plong udara luar yang masuk ke dalam ruang.

. . .

Tengah atau Pojok

Pintu masuk di sisi pojok belakang sering dijumpai pada masjid-masjid lama khususnya yang saya lihat di Jawa Tengah. Sementara banyak dari masjid yang dibangun saat ini (masjid modern) lebih sering membuat lubang pintu di bagian tengah. Di beberapa waktu kita lihat ketika masjid mulai penuh, orang yang masuk dari pintu tengah akan kesulitan untuk masuk karena melewati orang-orang yang duduk di dekat pintu. Atau mengira ruangan dalam telah penuh yang kenyataannya bagian belakang masih ada beberapa tempat yang kosong. Sementara di masjid dengan pintu terletak di paling belakang dia akan lebih mudah masuk jika ada bagian yang kosong sementara ia tidak akan melewati orang-orang yang duduk di depan karena dia masuk dari sisi pojok belakang. Barangkali begitu logika sirkulasi orang-orang dulu.

. . .

Selasar/Koridor

Apapun sebutannya, bagian datar yang mengelilingi ruang sholat sangat penting bagi sirkulasi pengguna. Ukuran lebarnya cukup untuk dua orang yang berpapasan lewat. Dia masih merupakan ruang basah dan debu-debu dari luar dan terlihat cukup tertata sebagai tempat meletakkan rak-rak alas kaki agar tidak kehujanan di luar. Bagian ini terlingkup di dalam bungkus fasade masjid namun terpisah dari tempat untuk sujud.  Eksistensinya terbentuk oleh dinding luar dan dinding dalam yang tidak perlu penuh hingga ke langit-langit bahkan cukup setinggi orang yang duduk di antara dua sujud. Untuk masjid dengan ukuran sedang dia sangat fungsional dan bisa sekaligus indah tergantung kualitas ruang yang dibentuk antara dua dinding dalam dan luarnya. 

Arsitekemarinsore 2016

Friday, April 1, 2016

Rest In Peace Dame Zaha Hadid


REST IN PEACE DAME ZAHA HADID 
(1950-2016)

Senang masih sempat berbagi zaman dengan beliau, mempelajari perkembangan pemikiran dan karyanya melalui literatur dan membaginya bersama mahasiswa. Semoga amalan beliau diterima di sisi-Nya.


Monday, March 28, 2016

Arsitektur Vernakular: Arsitektur tanpa Arsitek

Arsitektur vernakular adalah arsitektur anonim, bersifat spontan, asli setempat dan kedesaan. Demikian yang digambarkan Bernard Rudofsky dalam bukunya, Architecture without Architects yang menyertai sebuah pameran dengan judul yang sama di Museum of Modern Art, New York tahun 1964.

Dalam ilmu linguistik, istilah ‘vernakular’ mengacu ke sebuah bahasa yang digunakan oleh kelompok etnik pada waktu, atau tempat tertentu. Dalam kaitannya dengan arsitektur, istilah ini mengacu pada arsitektur sebuah wilayah dan/atau kelompok manusia atau kelompok etnik yang tinggal di sana. Kebanyakan arsitektur ini diaplikasikan pada rumah tinggal dan umumnya menggunakan material lokal.

Ronald Brunskill memberikan definisi mendasar dari arsitektur vernakular sebagai:

...sebuah bangunan yang didesain oleh individu amatir tanpa memiliki kecakapan dalam desain; orang tersebut (membangun) diarahkan oleh rangkaian kebiasaan yang berkembang di tempatnya, sedikit memberikan perhatian pada aspek kemenarikan. Fungsi bangunan menjadi faktor dominan, pertimbangan-pertimbangan estetika meskipun terlihat namun sangat sedikit. Material lokal merupakan bahan utama bangunan, dan sangat jarang menggunakan material yang dibawa dari luar (impor).

Sistem pengaturan udara melalui saluran penangkap angin, permukiman Hyderabad Sind, Pakistan.

Oleh karena dibangun/didesain oleh individu yang bukan arsitek atau memiliki keilmuan tentang seni bangunan, maka arsitektur vernakular disebut ‘arsitektur tanpa arsitek’. Hasil bangunan yang diciptakan adalah asli menggunakan teknik lokal masyarakatnya sehingga lebih kena dengan sebutan people’s architecture atau ‘arsitektur rakyat’. Sebagaimana yang disampaikan oliver, arsitektur vernakular: "the architecture of the people, and by the people, but not for the people" yang artinya arsitektur vernakular hanya dibuat untuk masyarakat pembuatnya saja, tidak memiliki nilai jual pasar. Sehingga bangunan yang dibuat oleh tenaga arsitek - meskipun memiliki ciri arsitektur rakyat - tidak termasuk dalam kategori arsitektur vernakular.

Dan seperti yang diketahui negeri kita diberkahi oleh beragam arsitektur seperti ini dari sabang sampai merauke. Faktor penting terbentuknya arsitektur vernakular adalah responya terhadap rasa akan tempat, being on the place atau istilah populernya ‘genius loci’. Ini mungkin bisa digambarkan seperti; arsitektur rumah betang suku dayak di kalimantan tidak akan atau tidak mungkin dibangun oleh suku badui di jawa barat, sebaliknya suku dayak di kalimantan tidak akan pula membuat rumah seperti rumah yang dibuat suku badui di jawa barat. Cara membangun mereka terikat oleh tempat (alam) dan kebiasaan hidup etnik kelompoknya.

Friday, March 18, 2016

Saran Kontroversial Peter Eisenman Bagi Yang Ingin Belajar Arsitektur

Foto: Jonathan Kirschenfeld (architectmagazine.com)
Dalam wawancara dengan Archdaily, Peter Eisenman (akademisi di Yale University school of architecture dan praktisi di Eisenman Architect) menyampaikan beberapa saran dan pendapatnya bagi siapa yang ingin mempelajari ilmu arsitektur khususnya di kampus-kampus arsitektur. Kemudian wawancara ini juga menyebutkan perbedaan pandangan beliau mengenai pengajaran di kampus arsitektur dan praktik pekerjaan di bidang arsitektur. Bagaimanakah pandangan beliau mengenai hal-hal ini? Berikut petikan wawancaranya:


Archdaily: 
Apa yang anda sarankan bagi seseorang yang ingin mempelajari arsitektur?

Peter Eisenman: 
Pertama-tama, jika seseorang ingin belajar arsitektur, saya akan mengatakan jangan! Itu yang pertama. Karena menurut saya arsitektur adalah profesi yang sangat buruk. (Tetapi) bagi saya profesi ini berharga, saya mencintai pekerjaan saya. Namun ini bukan sesuatu yang ingin saya sarankan ke banyak orang; itu yang nomor satu.

Nomor dua, saya menyarankan daripada mengikuti sekolah arsitektur, pertama saya akan menyarakan (untuk) mendapatkan pendidikan, yakni (dengan) mempelajari bahasa, mempelajari sejarah, mempelajari filosofi, mempelajari literatur dan segala macam hal yang dibutuhkan untuk membuat keputusan dalam hidup. (Baru) kemudian saya akan belajar arsitektur. 

Jadi, dalam sistem universitas yang kami miliki di Amerika Serikat, saya mengajarkan mahasiswa S1 mengenai liberal arts. Dan kemudian mengajar di sekolah lanjutan tiga tahun untuk tingkat master, (yakni) tingkat profesional. Namun saya tidak akan mengajarkan hal tersebut (profesional) di program empat/lima tahun program S1. Saya kira, orang-orang yang (begitu) muda tersebut belum siap mempelajari arsitektur.

Saya juga meyakini bahwa apa yang anda pelajari di sekolah arsitektur tidak sama dengan yang di lapangan (praktisi). Praktisi adalah hal lain dan seharusnya tidak merambah ke sekolah. Sekolah mempelajari (hal-hal) teoritikal, budaya, sejarah, isu-isu filosofi (yang) berhubungan dengan disiplin arsitektur. (Sementara) praktik arsitektur yang sesungguhnya, saya akan mengajarkan seseorang di sini (di kantornya), sesuai cara saya, bukan di sekolah arsitektur. 


(Sumber: archdaily: http://www.archdaily.com/170767/ad-interviews-peter-eisenman. Diterjemahkan oleh Arsitekemarinsore).


----------Ulasan Kemarin Sore

Poor profession saya artikan sebagai profesi yang menyedihkan, disamping poor bisa dimaksudkan sebagai ‘buruk’ atau ‘miskin’ namun saya kira profesi arsitek bukanlah pekerjaan yang sedikit menghasilkan uang, dan tentu bukanlah pekerjaan yang buruk. ‘Profesi yang menyedihkan’ yang dimaksud Eisenman sepertinya bermaksud menggambarkan dimana arsitek bekerja dengan imajinasi namun terkadang tidak sesuai ketika diwujudkan di lapangan, baik karena hambatan teknis maupun karena klien yang tidak setuju. Terlebih kenyataannya saat ini, profesi arsitek dikenal sebagai ‘tukang gambar’ yang menghasilkan desain semata karena keinginan-keinginan pasar. Arsitek cenderung komersialis ketimbang memahami potensi peranannya yang lebih dari itu.

Bagi eisenman arsitektur adalah pekerjaan yang sangat dinikmatinya baik sebagai akademisi maupun praktisi. Namun melihat kenyataan orang yang bekerja sebagai arsitek cenderung mengikuti pola mainstream, membuatnya tidak menyarankan untuk dijalani orang lain.

Membekali diri dengan kemampuan-kemampuan dan kebiasaan yang baik seperti belajar bahasa asing, mempelajari sejarah, membaca beragam literatur buku - tidak mesti terkait dengan arsitektur- akan cukup membuka wawasan. Wawasan ini ketika diasah di kampus akan membawa pada gagasan. Ilmu bentuk, konfigurasi ruang dan analisis lingkungan yang diajarkan dan dilatih di kampus arsitektur akan membantu mahasiswa dalam merumuskan konsep arsitektur. Konsep dalam studi arsitektur sangat penting dan yang utama. Semua orang bisa membuat konsep, namun konsep yang berwawasan dengan yang kurang berwawasan tentu akan tampak berbeda.

Mudah-mudahan dapat memberi informasi yang bermanfaat bagi yang ingin melanjutkan kuliah di arsitektur.


Saturday, March 12, 2016

Ketegasan Penataan Ruang Kota Memunculkan Kemandirian Bagi Penjual Makanan Kaki Lima

Hal ini karena berdagang di atas tanah yang bukan tempat seharusnya berdagang kaki lima tidak memunculkan keinginan untuk mencari lahan usaha sendiri yang sesuai dengan aturan guna lahan di perkotaan. Orang mungkin berpikir usaha jualan makanan kaki lima adalah usaha kecil semata untuk hidup harian dan usahanya itu mengandalkan tempat-tempat di tepi jalan raya sebagai yang mudah dikenal atau mudah dicari oleh langganannya itu sudah cukup tanpa perlu mencari lapak usaha seperti toko atau ruko.

Contoh yang bisa saya utarakan mengenai ketegasan pelaksanaan kebijakan tata ruang kota terjadi di dekat tempat tinggal saya, yakni di depan komplek Gardu PLN Jalan Kaliurang Km 7,8 Sleman, YK.

Saya tidak tahu pasti kapan penjual-penjual makanan kaki lima yang panjangnya kurang lebih 50 meter itu mendirikan tenda-tenda terpal di depan Gardu PLN, namun sekiranya sudah cukup lama. Beberapa warung cukup ramai dikunjungi pelanggan yang memarkirkan kendaraan di tepi jalan. Saya termasuk langganan di salah satu warung penyetan di waktu malam dan pecel madiun sewaktu buka pagi. Hingga suatu saat sekitar dua tahun lalu mereka harus mengosongkan lapak usahanya karena akan ditata ulang untuk menjadi taman penghijauan di sepanjang komplek Gardu PLN. Penataan ini membuat lingkungan menjadi asri. Kalau diingat kembali mengapa harus mengosongkan usaha yang sudah lama ada di sini kita mungkin berpikir, Gardu PLN memang seharusnya  steril dari kegiatan-kegiatan yang berpotensi menciptakan bahaya kebakaran. Barangkali mungkin ada kebijakan tata ruang maupun kebijakan PLN resmi tentang hal tersebut sehingga pengosongan mau tidak mau harus dilakukan.

Lalu bagaimana kondisi para penjual kaki lima setelah pindah? Saya kira tidak ada pengalokasian khusus. Kepindahan mereka pun terkesan suka rela. Di awal-awal saya temui, beberapa menempatkan usahanya masih di sekitar lokasi lama tidak jauh dari radius 100 meter ke arah utara dan ke selatan. Langganan warung penyetan saya waktu itu membuka tenda di tanah sisa diantara dua bangunan toko yang masih kosong. Pelanggannya tidak berkurang, namun saya agak pesimis apakah akan tetap seperti terus karena tempatnya bahkan lebih sempit. Sambil melayani pelanggan, penjual lainnya pun saya lihat masih sibuk menyesuaikan usahanya dengan tempat yang baru. Lambat laun dalam hitungan bulan, tempat usaha mereka tidak lagi bertenda namun sudah menempati toko di dekat mereka jualan. Tempat usaha mereka lebih luas, lebih bersih, lebih tertata dan pelanggan pun jadi lebih banyak. Mereka yang dulunya berjualan hanya di malam hari kini jualan di siang hari pula. Ini mungkin upaya membayar sewa ruang usaha yang lebih tinggi.

Namun demikian, semua ini menunjukkan bahwa setelah pindah dari lapak tenda pinggir jalan, para penjual ini justru mampu mengembangkan usahanya. Dan ini sekaligus menunjukkan upaya penataan ruang yang dijalankan dengan tegas akan membentuk mental dan kemandirian pengguna lahan yang sebelumnya menempati ruang yang tidak sesuai penggunaan.




Sunday, March 6, 2016

Belajar Dari Yori Antar Dalam Membina Potensi Living Culture


Selasa 24 november 2015 lalu saya berkesempatan sowan ke ‘enterprise’, kantor biro arsitektur Han Awal di bilangan Bintaro, Jakarta. Bersama dua orang teman, Aji dan Pak Herry Purnomo (ketua IAI Papua) yang pernah bekerjasama dengan Pak Yori Antar dalam proyek waerebo. Dan sangat beruntung kami yang baru pertama bertemu langsung bisa bertamu di kediaman rumah tinggal barunya yang tidak jauh dari kantor.

Memulai pembicaraan mengenai kegiatan beliau dalam merestorasi rumah-rumah adat di Indonesia timur, beliau mengatakan antara lain: "kita datang untuk belajar, bukan untuk memasukkan pemikiran kepada warga." Beliau  mengatakan hal ini karena biasanya orang-orang yang datang dari kampus cenderung ingin menerapkan ilmu yang dipelajarinya kepada warga lokal dengan mengabaikan kemampuan teknik lokal warga setempat. Hal ini baik, namun sikap yang paling baik menurut beliau adalah Datang ke lokasi dengan mengosongkan pikiran yang diperoleh dari bangku kuliah dan siap menerima apa yang ada di lokasi. Ilmu yang didapat dari bangku kuliah mengisi otak kiri sementara yang diperoleh di lapangan akan mengisi otak kanan sehingga saling melengkapi. Hal ini akan menguntungkan karena warga lokal akan merasa terhormat orang yang dari jauh datang untuk belajar kepada mereka. Kata belajar inilah menjadi kunci yang menyelamatkan tim Yori Antar dari kecurigaan pihak yang mewakili warga lokal terhadap adanya motif negatif yang mungkin menyertai.

Hal yang penting yang disampaikan beliau adalah "daripada membangun museum yang tidak jelas dananya dan sepi pengunjung. Lebih baik membangun living culture yang merupakan kekayaan yang berharga. Sekali kekayaan ini hilang maka dia akan hilang selamanya. Skil budaya ini yang dibangun dan dikembangkan. Karena kalau hanya membangun, bangunan itu akan hilang tapi bila dikembangkan dia akan terus berlanjut." Ini karena usaha beliau melibatkan langsung warga lokal dengan skill yang dibutuhkan untuk membangun. Sementara mereka hanya melihat prosesnya dari tepi.

Perbincangan hangat di ruang tengah kediaman Yori Antar (foto: dok arsitekemarinsore)

Kenyataannya pengembangan di lingkungan tradisional atau adat tidak melibatkan masyarakat adatnya itu sendiri. Masyarakat hanya menjadi penonton, skill penduduk tidak tumbuh. Dan pekerjaan pembangunan dilakukan oleh kontraktor yang tidak paham dengan tradisi sehingga bangunan yang dibuat hanya menjadi formalitas, arsitekturnya tidak mengakar dengan tempat (terlebih karena bahan yang digunakan diperoleh dari toko-toko bangunan bukan dari alam) dan pada akhirnya rusak sendiri karena jarang digunakan. Dalam suatu kesempatan beliau pernah menyampaikan di hadapan kepala-kepala PU bahwa pekerjaan yang sejauh ini mereka lakukan salah langkah karena tidak melibatkan warga adat (yang sebenarnya masih memiliki keahlian dan trik membangun turun temurun tanpa perlu bantuan kontraktor resmi). Pekerjaan yang melibatkan warga lokal akan memunculkan rasa memiliki, melindungi dan merawat bangunan tradisional agar tidak rusak.

Usaha ini pada akhirnya mendorong desa tersebut menjadi obyek kunjungan wisatawan karena modal keasliannya yang masih terjaga (seperti di Waerebo). Ketika memasukinya pun aturan-aturan adat diperkenalkan sebagai bagian menjaga tradisi. Oleh karena itu dunia pariwisata dan kehidupan adat tradisi dapat bersanding dan menghormati tanpa mengakibatkan 'dampak degradatif' yang biasanya bawaan dalam dunia pariwisata.

Saturday, February 28, 2015

Arsitektur Rumah Jawa: Keambiguan, Keanomalian dan Kemisteriusan

Di depan gang tempat saya tinggal terdapat sebuah rumah tinggal berarsitektur khas jawa yang baru selesai dibangun tahun lalu dengan bentuk dan tampilan arsitektur rumah jawa yang lebih baru dan lebih segar. Lebih segar terlihat dari material kayu alaminya yang kinclong, bentuk atap prisma yang menjulang dengan ikon cerobong pada puncaknya, kaca jendela yang panjang dan lantai teras yang tingginya dari tanah kurang lebih 80 cm.

Bangunan tersebut didirikan di lahan yang sama dimana dahulu ada sejenis rumah jawa juga yang menghadap ke barat, beratap tradisional jawa ukurannya lebih kecil, berkesan tertutup, namun selalu memancing perhatian saya ketika lewat di depannya. Saya mau cerita sedikit tentang rumah ini sebelum dirubuhkan. Lantai teras depannya lebih rendah dari level jalan dan berada pas dengan sisi jalan. Setiap saya lewat saya selalu memperhatikan rumah jawa itu; lebar depannya hanya kurang lebih enam meter, sementara ke belakang lebih pendek yakni 4-5 meter. Pintu sekaligus dindingnya dari gebyok kayu berwarna cokelat gelap, sementara sebagiannya di sebelah utara difinishing semen kasar. Ketinggian teritisan atap gentengnya dapat dijangkau tangan dengan mudah. 

Pintu kayu yang lebih sering tertutup itu pun sesekali terbuka. Sehingga terlihatlah (interior) pemandangan di dalam rumah yang justru merupakan ruang luar (outdoor). Inilah momen yang sering saya tunggu ketika lewat karena begitu tertutupnya rumah berdinding gebyok (tanpa jendela) ini. Ketika pintu dibuka bagian dalam merupakan ruang langit terbuka atau kata lain inner court dengan sebuah gasebo kecil sebagai ruang duduk yang akrab, yang mana posisinya sejajar dengan pintu masuk sehingga dapat terlihat langsung dari depan jalan. 

Bagi saya (yang bukan orang asli jawa) arsitektur rumah jawa (rumah joglo) memberikan kesan keambiguan, keanomalian, dan kemisteriusan yang saya peroleh dari beberapa pengamatan terhadap letak pintu-pintu rumah ini di beberapa tempat di jogja maupun di wilayah sekitar pada umumnya. Adalah pintu samping (secondary door) yang sedinding atau sejajar dengan pintu utama (main door) adalah "keambiguan" yang dimaksud adalah sering bagian muka rumah memiliki lebih dari satu pintu masuk, yang kiranya akan membuat orang berpikir mana pintu dari salah satunya yang pas untuk diketuk ketika bertamu. Sementara itu ada posisi pintu (secondary door) yang terletak di pertemuan teritisan dua atap yang menurut saya tidak biasa (atau barangkali tidak seharusnya di situ), karena biasanya pintu rumah diposisikan jauh dari teritisan karena merupakan tempat jatuhnya air (meskipun ditalang akan rawan kobocoran). Ini yang saya sebut "anomali" karena tatanan yang tidak lumrah (setidaknya dibandingkan pengamatan saya terhadap bangunan-bangunan dari daerah lainnya). Berikutnya "kemisteriusan". Cerita tentang rumah tinggal di atas adalah salah satunya yang membekas. seketika kemisteriusan itu terkuak ketika cahaya matahari tampak terlihat dari luar dari muka bangunan yang tertutup tanpa jendela.

Dari keambiguan, keanomalian dan kemisteriusan tersebut justru itulah yang membuat rumah jawa ini berkarakter. Merupakan ciri kualitas yang tidak bisa terhitung dalam penilaian ukuran bangunan semata. Pengembangan rumah-rumah jawa yang dibuat lebih modern saat ini justru membuat karakter tadi lenyap. Dia tidak lagi ambigu karena aksesnya jelas dan terpusat. Dia tidak lagi anomali karena dibangun sesuai dengan prinsip proporsi bentuk kekinian nan logik, dan dia tidak lagi misterius karena material yang digunakan lebih membuat bangunan terekspose sedari depan, oleh karena pemasangan jendela kaca yang turun sampai lantai. Namun ketika semuanya sudah ‘jelas’ maka selanjutnya menjadi biasa. Dia adalah sekedar bangunan berarsitektur jawa kekinian yang ‘bagus’.


Catatan: di akhir tulisan ini kiranya ada diantara blogger yang berkenan menambahkan alasan-alasan penempatan pintu-pintu rumah jawa yang unik tersebut. Terima kasih sebelumnya