Saturday, February 28, 2015

Arsitektur Rumah Jawa: Keambiguan, Keanomalian dan Kemisteriusan

Di depan gang tempat saya tinggal terdapat sebuah rumah tinggal berarsitektur khas jawa yang baru selesai dibangun tahun lalu dengan bentuk dan tampilan arsitektur rumah jawa yang lebih baru dan lebih segar. lebih segar terlihat dari material kayu alaminya yang kinclong, bentuk atap prisma yang menjulang dengan ikon cerobong pada puncaknya, kaca jendela yang panjang dan lantai teras yang tingginya dari tanah kurang lebih 80 cm. 

bangunan didirikan di lahan yang sama dimana dahulu ada semacam rumah jawa juga namun lebih kecil, lebih rendah bahkan dari jalan dan lebih tertutup. pintu dan dindingnya yang merupakan gebyok kayu yang berwarna cokelat gelap, sebagian dinding lagi dari finishing semen kasar, dan atap genteng yang terjangkau oleh lengan. sesekali pintu kayu yang lebih sering tertutup itu terbuka sehingga terlihatlah pemandangan. . .(bersambung).

Saturday, January 31, 2015

'Pure Shit' Frank Gehry

Beberapa bulan di akhir tahun lalu berita seputar dunia arsitektur dihebohkan dengan pernyataan Frank Gehry. Sesaat setelah mendengar pertanyaan dari wartawan lokal spanyol, gehry mengacungkan jari tengah ke arah si penanya. Lalu mulai menjelaskan:

“Let me tell you one thing. In this world we are living in, 98 percent of everything that is built and designed today is pure shit. There’s no sense of design, no respect for humanity or for anything else. They are damn buildings and that’s it.

"Begini ya mas, saya kasi tau (kira-kira gitu kali ya indonesianya..:D). “Di dunia yang kita tinggali ini, 98 persen dari semua (bangunan) yang didesain dan terbangun saat ini adalah pure shit (kira-kira artinya omong kosong). Tidak memiliki rasa desain, tidak menghargai sisi manusia dan hal-hal lainnya. Semua bangunan tersebut buruk and that’s it.”

Banyak yang merespon pernyataan ini; yang mendukung, yang tidak, dan ada pula yang menganggapnya keren. Namun apa sih yang menarik dan bisa kita ambil dibalik kehebohan pernyataan sikap gehry ini. Kiranya saya punya tiga poin untuk disampaikan :

Poin pertama singkat. Adalah hal yang menarik seorang Frank Gehry dengan praktek arsitekturnya yang berbeda dan dikritisi banyak kalangan, dengan serius berbicara tentang sense of design dan aspek manusia dalam desain?!! justru ketika saat orang berpikir sebaliknya terhadap karya-karya beliau yang kontroversial.

Poin kedua sedikit panjang. Dengan gaya desainnya yang kontroversial itu, apakah beliau termasuk arsitek yang perduli dengan sense of design?. Dalam tulisan ini saya hendak memaparkan apa yang mungkin bisa ditangkap dari maksud pernyataan Gehry di atas -ketimbang heboh dengan acungan jari tengahnya. Gehry menyatakan sebuah fenomenan yang kira-kira dapat saya analogikan dengan lirik “papa rock n roll” dari the dance company :

… papa ga pulang beibeh,papa ga bawa uang beibeh.

Ibarat orang tua yang kerja terus menerus demi anaknya, namun seringkali kebutuhan si anak yang sebenarnya sering dilupakan bukan uang tapi perhatian dari orang tuanya. Terkadang arsitek terlalu cenderung pada penampilan luar bangunan, atau katakanlah tren saat ini cenderung mengejar penggunaan energi hingga target nilai tertentu. Apakah skor nilai itu indikasi arsitektur yang berhasil? Tanpa disadari tampilan bangunannya yang bersirip-sirip itu semakin mirip dengan mesin AC. Dari sisi ini apakah tidak terkesan arsitektur dibentuk semata untuk kebutuhan si bangunan saja yang berdampak pada tampilan visual. Lalu bagaimana dengan perhatian terhadap penggunanya? Apakah orang mengerti dengan bangunan yang sustainable, hemat energi? Ya mungkin berdampak pada kenyamanan penggunanya, namun setelah memenuhi kriteria itu semua, then what? Sampai di situ saja kah arsitektur?.

“Architecture goes beyond the utilitarian needs.” Le Corbusier
Bapak arsitektur modern ini pula menyatakan bahwa arsititektur lebih dari sekedar menyelesaikan hal-hal yang basis pada bangunan.

Tidak hanya praktek di lapangan, di lingkungan kampus saya rasa juga demikian. Saya ingat desain tugas akhir seorang teman yang menggunakan software untuk mendapatkan bangunan yang respon terhadap iklim, namun desain yang dihasilkan terasa kaku. Bukan semata masalah di bentuknya tapi penyelesaian arsitekturnya yang semata didasarkan pada data angka-angka numerik dan alasan-alasan yang –terlalu- logik dan terasa minusnya rasa desain (sense of design). Saya hanya menyayangkan bagaimana arsitektur sebagai pengetahuan tentang bentuk yang dipelajari selama empat tahun hilang seketika karena keyakinan rancangan yang ditumpu pada software. Bangunan hilang dari sentuhan humanis si perancang.

Menurut gehry dalam sebuah pernyataannya, apa yang hilang adalah seni. Nilai seni itu yang membuat arsitektur lebih humanis, persetan dia memiliki kriteria bangunan yang sudah green, sustainable atau tidak. Apakah bangunan itu relate to people, dalam hal memberi rasa, memori, namun bukan berarti dengan memunculkan kembali arsitektur masa lampau, yang dekoratif. Mungkin banyak orang tidak mengetahui salah satu ‘misi’ arsitektural gehry hasil pencarian beliau untuk mengganti elemen-elemen dekoratif tersebut adalah dengan bentuk-bentuk yang bergerak, bergelombang seperti yang terlihat pada Guggenheim Museum dan Sidney Concert Hall. Bagaimana pada akhirnya bentuk tersebut membekas di benak dan memori si pengguna adalah target gehry selama karirnya untuk memperoleh bangunan yang humanis bagi penggunanya.

Dalam praktek desainnya gehry selalu membuat mock up atau maket dengan dengan beberapa skala yang berbeda, tiga atau lebih agar dia tetap dapat sense ruang seperti yang akan dibangun. Di jaman sekarang, katakanlah di tempat kita, arsitek mungkin sudah cukup ‘merasakan ruang’ dengan permainan image 3D dan animasi bergerak dari software.

Di poin ketiga yang terakhir ingin saya sampaikan, arsitektur gehry bukanlah kemudian arsitektur yang sejatinya lantas ditiru. Tentu tidak demikian karena menurut saya desain ini sangat personal dan tentunya tidak mungkin menjadi hal yang umum kemudian diikuti arsitek yang lain. Setiap arsitek memiliki pandangan desain yang berbeda karena faktor latar belakang sejarah, budaya, maupun lingkungan. Karya gehry hanya perlu dilihat secara apa adanya, terkadang -bahkan seringnya- bukan untuk dipahami bagaimana maksud tatanan bentuknya. Dibutuhkan pembacaan lapis kedua, dimana disitu terletak keinginan si perancang dan dengan baru bisa dipahami, namun tentu baru bersifat tebakan yang subyektif. Kekonsistenannya dalam bentuk arsitektur adalah memunculkan bentuk yang membelot dari bayangan konsistensi bentuk dan irama yang selalu hadir pada karya arsitektur, yakni pada tingkat detail tiap elemen massa pembentuk bangunannya.

Meskipun bersifat pribadi namun justru arsitektur gehry berkesan di setiap pribadi yang melihat atau berkunjung kebanguannya. Dari arsitektur pribadi yang muncul di kehidupan banyak orang.

//draft words.

Thursday, January 1, 2015

Kritik Arsitektur - Kuliah Online

Pendahuluan
  • Kuliah online wajib diikuti oleh semua peserta mata kuliah kritik arsitektur UTY ta. 2014/15 dengan menyertakan nama lengkap mahasiswa.
  • Kuliah online kritik arsitektur menampilkan tiga desain karya teman-teman UTY peserta mata kuliah kritik arsitektur yang telah dimintai kesediaannya sebagai obyek ulasan kritik.*
  • Masing-masing mahasiswa minimal memberikan ulasan kritiknya pada dua obyek desain, lebih dari itu (3 buah) lebih baik.
 Waktu
  • Berhubung keterlambatan tayang yang seharusnya tanggal 28 des 2014 karena alasan teknis, maka kuliah online kritik arsitektur pertemuan-14 diperpanjang dari seharusnya 4 januari 2015 menjadi 8 januari 2014 pukul 12.00 siang. 
  • Lewat dari waktu tersebut teman-teman mahasiswa dianggap tidak menghadiri perkuliahan.
  • Lewat dari waktu tersebut entri komentar dapat terus dilangsungkan, hanya statusnya sudah di luar 'jam kuliah'.

Desain
1. Style Shop Mall / Ahmad Kaukabudin /Studio Perancangan Infrastruktur


2. Kantor Lurah Legian Bali - Yana Adi Pratama Putra


3. Rumah Tinggal - Angga Setyawan


 
 

*) blog arsitekemarinsore tidak bertanggungjawab terhadap status keaslian kepemilikan desain yang ditampilkan:)

Saturday, November 22, 2014

Logo Yogyakarta "Kota Budaya untuk Dunia" oleh Arsitekemarinsore

Arsitekemarinsore, Logo Jogja "Kota Budaya untuk Dunia"
Di awal tulisan ini saya harus menyampaikan apa yang saya kerjakan ini is not official, hanya semata kreatifitas. Mendengar ada ramai-ramai komentar dan kritik mengenai logo yogya yang baru dipublikasikan. Saya mulai cari-cari info tentang berita tersebut dan melihat hasil desain logo yogya yang kalau tidak salah didesain oleh Mark Plus punyanya Pak Hermawan Kertajaya, seorang ahli market dan branding bisnis. Tetapi singkat, menurut saya pribadi hasilnya tidaklah sedahsyat konsep dan filosofi yang dikandung. 

Menariknya Kota Jogja sejauh ini rakyatnya cukup terbuka namun juga kritis apalagi menyangkut soal identitas kota. Logo dari Mark Plus yang diusulkan kemudian diurun-rembugkan dengan mediator Pemkot DIY untuk memperoleh masukan dari warga, dan tentunya disediakan ruang untuk input karya logo. Saya kira tujuannya bukan untuk tanding-tandingan, khususnya logo yang saya buat ini pada awalnya bukan untuk partisipasi urun-rembug saat ini, tapi untuk versi jualan :) yang sudah pernah saya buat sekitar dua tahun lalu. Hanya untuk kepentingan partisipasi maka saya sebut logo saja.

Konsep

Seperti halnya sebuah karya seni, desain grafis juga memiliki bobot konsep sebagai dasar untuk memulai rancangan. Di awal rancangan saya sempat turun ke lapangan melakukan beberapa sketsa pelingkup (enclosure) bangunan di sekitar tugu, khususnya yang bernilai historis. Apa yang saya tangkap di lapangan beda ketika memulai rancangan, namun konsep enclosure tetap dipertahankan; sesuatu yang melingkupi si tugu harus muncul dalam desain begitu kira-kira bayangan saya. Pada akhirnya imej kota budaya membawa kepada obyek ;gunungan' dari seni wayang.

Seperti yang terlihat dari gambar di atas konsep dan filosofi dari logo ini diambil dari tugu pal putih dan gunungan wayang. Kedua simbol ini kiranya sangat kental dalam memori orang asli jogja maupun orang luar jogja. Sebuah entitas yang mudah untuk diingat dan diasosiasikan dengan identitas Jogja sebagai Kota Budaya. 

Pesan Jogja Kota Budaya dimunculkan dalam figur tugu dan gunungan yang dilebur dalam satu siluet kontinyu dengan variasi empat detail dekoratif yang dapat dinterpretasikan sebagai detail ‘tumbuhan’ yang sudah akrab dalam karya seni dan arsitektur jawa maupun‘api’ (simbol gelora / spirit masyarakatnya) 

Warna emas tidak lain untuk memberikan nuansa kehadiran karaton sementara tulisan city of culture (inggris) dalam karakter aksara Hanacaraka adalah simbol kreatiftas sekaligus ingin menunjukkan peran serta Jogja - yang terbuka dan sebagai salah satu pusat budaya - Untuk Dunia.

Sekian.

Sunday, March 30, 2014

Sudut Bangunan dan Kualitas Perancang


Wajah depan Masjid Salman ITB, Ir. Achmad Noe'man (1963).
Ketika berkunjung ke kampus ITB untuk suatu urusan di pertengahan 2010. Saya baru tahu kalau Masjid Salman terletak tepat di seberang kampus arsitektur Jalan Ganesha. Saya sempatkan untuk beribadah di masjid ini, yang sebelumnya hanya saya lihat di majalah atau internet. Sendiri kemudian saya mengapresiasi desain Pak Achmad Noe'man ini dari dalam hingga keliling luar; selubung persegi, sederhana dan proporsional-dalam arti tidak dilebih-lebihkan atau kekurangan-dalam desain. Selubung bangunan di keempat sisinya diselesaikan dengan baik dan khusus seolah tanpa pengecualian dengan menyesuaikan fungsi interior dan respon lingkungan luarnya.

Kemudian saya lebih detail lagi ke arah sudut bangunan. Ketika melihat susunan dinding roster merah yang bertemu di sudut tiang, dari sini saya membatin; kiranya arsitek yang baik itu terlihat dari penyelesaiannya pada bagian sudut bangunan, sudut-sudut bangunan terpikir oleh saya menentukan kualitas si arsitek. Perancang-perancang bangunan sering terjebak pada permainan facade utama saja dan melewatkan bagian sudut yang sekedar terputus atau penyelesaian sisa dari kedua sisi yang bertemu, apalagi saat ini ragam material dengan corak bahan dan warna memungkinkan variasi facade yang menonjol. Entah bagaimanapun, sudut kadang-kadang dapat menunjukkan sejauh mana jangkauan kualitas si arsitek terhadap rancangannya.

Masjid Salman: sudut depan bagian utara.
Masjid Salman: sudut depan bagian selatan
Kiranya anggapan ini semakin kuat, kalau kita kembali melihat karya Mies pada Gedung Seagram (1958). Bagaimana beliau sangat menaruh perhatian pada detail. Lekukan baja yang menerus pada luar bangunan adalah bentukan dari tangan Mies sendiri. Hasilnya terlihat sederhana tapi ternyata tidak sederhana dalam pengerjaannya. Kebanyakan arsitek menilai bahwa ide keseluruhan adalah yang paling penting, tapi tidak demikian, detail lah yang membuat bangunan bagus secara keseluruhan, demikian kira-kira ungkapan Philip Johnson, rekan arsitek yang ikut membantu Mies merancang Seagram.


Gedung Seagram, Mies Van Der Rohe (1958).

Sudut Gedung Seagram
Detail sudut Gedung Seagram

Dari kedua contoh bangunan yang bernuansa arsitektur modern di atas, kiranya ada pelajaran yang dapat diambil dari kesederhanaannya, "In der Beschraenkung zeigt sich der Meister". Orang yang tahu membatasi diri membuktikan diri seorang ahli. 

Sumber:
  • Foto Masjid Salman ITB, dokumentasi arsitekemarinsore.
  • Imej Seagram Building, google.
  • American architecture now; philip johnson, with barbaralee diamonstein (1986).
  • Wastu Citra, Dipl. Ing. Y.B. Mangunwijaya (1988).