Saturday, November 22, 2014

Logo Yogyakarta "Kota Budaya untuk Dunia" oleh Arsitekemarinsore

Arsitekemarinsore, Logo Jogja "Kota Budaya untuk Dunia"
Di awal tulisan ini saya harus menyampaikan apa yang saya kerjakan ini is not official, hanya semata kreatifitas. Mendengar ada ramai-ramai komentar dan kritik mengenai logo yogya yang baru dipublikasikan. Saya mulai cari-cari info tentang berita tersebut dan melihat hasil desain logo yogya yang kalau tidak salah didesain oleh Mark Plus punyanya Pak Hermawan Kertajaya, seorang ahli market dan branding bisnis. Tetapi singkat, menurut saya pribadi hasilnya tidaklah sedahsyat konsep dan filosofi yang dikandung. 

Menariknya Kota Jogja sejauh ini rakyatnya cukup terbuka namun juga kritis apalagi menyangkut soal identitas kota. Logo dari Mark Plus yang diusulkan kemudian diurun-rembugkan dengan mediator Pemkot DIY untuk memperoleh masukan dari warga, dan tentunya disediakan ruang untuk input karya logo. Saya kira tujuannya bukan untuk tanding-tandingan, khususnya logo yang saya buat ini pada awalnya bukan untuk partisipasi urun-rembug saat ini, tapi untuk versi jualan :) yang sudah pernah saya buat sekitar dua tahun lalu. Hanya untuk kepentingan partisipasi maka saya sebut logo saja.

Konsep

Seperti halnya sebuah karya seni, desain grafis juga memiliki bobot konsep sebagai dasar untuk memulai rancangan. Di awal rancangan saya sempat turun ke lapangan melakukan beberapa sketsa pelingkup (enclosure) bangunan di sekitar tugu, khususnya yang bernilai historis. Apa yang saya tangkap di lapangan beda ketika memulai rancangan, namun konsep enclosure tetap dipertahankan; sesuatu yang melingkupi si tugu harus muncul dalam desain begitu kira-kira bayangan saya. Pada akhirnya imej kota budaya membawa kepada obyek ;gunungan' dari seni wayang.

Seperti yang terlihat dari gambar di atas konsep dan filosofi dari logo ini diambil dari tugu pal putih dan gunungan wayang. Kedua simbol ini kiranya sangat kental dalam memori orang asli jogja maupun orang luar jogja. Sebuah entitas yang mudah untuk diingat dan diasosiasikan dengan identitas Jogja sebagai Kota Budaya. 

Pesan Jogja Kota Budaya dimunculkan dalam figur tugu dan gunungan yang dilebur dalam satu siluet kontinyu dengan variasi empat detail dekoratif yang dapat dinterpretasikan sebagai detail ‘tumbuhan’ yang sudah akrab dalam karya seni dan arsitektur jawa maupun‘api’ (simbol gelora / spirit masyarakatnya) 

Warna emas tidak lain untuk memberikan nuansa kehadiran karaton sementara tulisan city of culture (inggris) dalam karakter aksara Hanacaraka adalah simbol kreatiftas sekaligus ingin menunjukkan peran serta Jogja - yang terbuka dan sebagai salah satu pusat budaya - Untuk Dunia.

Sekian.

Sunday, March 30, 2014

Sudut Bangunan dan Kualitas Perancang


Wajah depan Masjid Salman ITB, Ir. Achmad Noe'man (1963).
Ketika berkunjung ke kampus ITB untuk suatu urusan di pertengahan 2010. Saya baru tahu kalau Masjid Salman terletak tepat di seberang kampus arsitektur Jalan Ganesha. Saya sempatkan untuk beribadah di masjid ini, yang sebelumnya hanya saya lihat di majalah atau internet. Sendiri kemudian saya mengapresiasi desain Pak Achmad Noe'man ini dari dalam hingga keliling luar; selubung persegi, sederhana dan proporsional-dalam arti tidak dilebih-lebihkan atau kekurangan-dalam desain. Selubung bangunan di keempat sisinya diselesaikan dengan baik dan khusus seolah tanpa pengecualian dengan menyesuaikan fungsi interior dan respon lingkungan luarnya.

Kemudian saya lebih detail lagi ke arah sudut bangunan. Ketika melihat susunan dinding roster merah yang bertemu di sudut tiang, dari sini saya membatin; kiranya arsitek yang baik itu terlihat dari penyelesaiannya pada bagian sudut bangunan, sudut-sudut bangunan terpikir oleh saya menentukan kualitas si arsitek. Perancang-perancang bangunan sering terjebak pada permainan facade utama saja dan melewatkan bagian sudut yang sekedar terputus atau penyelesaian sisa dari kedua sisi yang bertemu, apalagi saat ini ragam material dengan corak bahan dan warna memungkinkan variasi facade yang menonjol. Entah bagaimanapun, sudut kadang-kadang dapat menunjukkan sejauh mana jangkauan kualitas si arsitek terhadap rancangannya.

Masjid Salman: sudut depan bagian utara.
Masjid Salman: sudut depan bagian selatan
Kiranya anggapan ini semakin kuat, kalau kita kembali melihat karya Mies pada Gedung Seagram (1958). Bagaimana beliau sangat menaruh perhatian pada detail. Lekukan baja yang menerus pada luar bangunan adalah bentukan dari tangan Mies sendiri. Hasilnya terlihat sederhana tapi ternyata tidak sederhana dalam pengerjaannya. Kebanyakan arsitek menilai bahwa ide keseluruhan adalah yang paling penting, tapi tidak demikian, detail lah yang membuat bangunan bagus secara keseluruhan, demikian kira-kira ungkapan Philip Johnson, rekan arsitek yang ikut membantu Mies merancang Seagram.


Gedung Seagram, Mies Van Der Rohe (1958).

Sudut Gedung Seagram
Detail sudut Gedung Seagram

Dari kedua contoh bangunan yang bernuansa arsitektur modern di atas, kiranya ada pelajaran yang dapat diambil dari kesederhanaannya, "In der Beschraenkung zeigt sich der Meister". Orang yang tahu membatasi diri membuktikan diri seorang ahli. 

Sumber:
  • Foto Masjid Salman ITB, dokumentasi arsitekemarinsore.
  • Imej Seagram Building, google.
  • American architecture now; philip johnson, with barbaralee diamonstein (1986).
  • Wastu Citra, Dipl. Ing. Y.B. Mangunwijaya (1988).

Friday, January 10, 2014

Prada Transformer Seoul by OMA

Proyek Prada (2002) yang dikerjakan OMA merupakan simbol hubungan kolaborasi antara seni dengan arsitektur, begitu juga fashion dengan arsitektur. Dua bidang yang dulunya terpisah ini, kini menjadi sebuah perpaduan yang tunggal.



Proyek Prada bertujuan mendesain empat even secara efisien. Pada awalnya proyek ini mencoba mengkombinasikan satu atau lebih obyek yang fleksibel. Ketimbang membuat satu paviliun untuk satu even, Rem Koolhaas mengusulkan empat even yang dapat ditampung dalam sebuah paviliun, sehingga menjadi triger dalam memunculkan konsep arsitektur. Namun tidak berhasil karena event satu sama lainnya saling kontradiktif. Akhirnya daripada membentuk kesatuan tunggal yang fleksibel, keadaannya dibuat dengan mendesain denah khusus, denah yang spesifik untuk masing-masing even, kemudian menggabungkannya dalam struktur tunggal yang mirip dengan piramid. Sehingga ketika suatu even aktif maka denah dapat diganti, demikian ketika even yang lain berlangsung. 



Dengan demikian paviliun ini tidak hanya memiliki satu identitas namun empat identitas yang berbeda yang pada dasarnya diperoleh dengan memutar paviliunnya. Obyek ini diangkat dengan crane, diputar di atas kemudian diletakkan di bawah. Yang menarik adalah ketika seseorang berdiri di dalam paviliun, maka dia akan selalu melihat lantai dari even yang lain, seolah seperti memori yang mendefinisikan ruang. Seperti contoh pada ruang cinema. Pada fungsi cinema mengambil bagian dari fungsi fashion show sebagai tempat kabin projection. 




Tuesday, December 31, 2013

Memahami 'Encounter Space' Lewat Running Man

Pertengahan 2013 kemarin saya mengulik kembali elemen dasar dari arsitektur, yakni ruang. Begitu esensinya ruang (space) dalam arsitektur hingga Bernard Tschumi 'mematenkan' ruang sebagai dasar teori dan praktik arsitekturnya dalam pernyataan, there is no architecture without space, tiada arsitektur tanpa ruang

Ketika membaca jurnal berjudul the architecture of the urban object, Bill Hillier menyebutkan: 'space is used sometimes to generate and sometimes to restrict the field of encounter of human beings and their symbols'. Lagi saya menemukan kata 'encounter' yang selalu mendefinisikan peran dari 'space'. Kalimat field of encounter of human beings.., menjadi perhatian saya untuk memahami tentang ruang, tempat bertemunya aktifitas orang, baik dalam skala ruang arsitektur maupun skala ruang kota. Di Kamus Oxford yang saya punya, encounter adalah (v) meet sth/sb difficult or unexpected, (n) unexpected (esp unpleasant) meeting. Dari terjemahan itu pengertian 'encounter' kemudian saya pahami tidak sebatas ruang sebagai tempat bertemu saja, tapi lebih jauh jenis pertemuannya adalah tidak terduga, dan tidak diharapkan karena sesuatu yang tidak menyenangkan.

RM program opening (feat. Jackie Chan dan Shi won)
Di saat yang sama, saya lagi seru-serunya mengikuti variety show Korea, Running Man. program acara yang isinya permainan, biasanya kejar-kejaran antar peserta yang mengambil tempat-tempat di dalam bangunan-bangunan landmark atau pusat keramaian di dalam kota, seperti gedung kantor berlantai banyak, mall, museum, pasar tradisional, kampus, pabrik, galeri dan beberapa ruang outdoor seperti koridor jalan dan tempat lapangan. Tidak hanya seru dan lucu, secara langsung dan tidak sengaja saya pikir acara ini malah memberikan dukungan pemahaman dari pengertian apa itu ruang sebagai tempat bertemunya orang-orang (space is as field of encounter of human beings) dalam arti yang lebih gamblang atau kalau bisa dibilang sebagai contoh yang ekstrim. 




Unpredicted meetings end up in unpredicted spaces. RM episodes
Hubungan antar ruang menggerakkan pemain-pemain yang saling mengejar satu sama lain dari ruang-ruang yang ramai hingga ke ruang-ruang sepi menciptakan adegan yang tak terduga ketika para pemain saling bertemu. Saya kira di Running Man ruang menjalankan perannya di luar rencana ideal yang dibuat si perencana gedung. Karena di sini ruang-ruang dari hall, koridor, lift, tangga darurat, ruang kerja, gundang, kamar tidur, roof top dll dieksplor para pemakai, 'diobrak-abrik', 'ditelanjangi', dimanfaatkan tidak sesuai fungsi dan aktifitas yang sudah 'diprogramkan', sehingga menciptakan 'encounter-encounter' dari kejadian yang tak terduga. Ruang  dengan demikian melalui hubungan antar ruang terlihat secara murni berperan dalam fungsinya sebagai penggerak kegiatan, pencipta kejadian tak terduga, terlepas dia berstatus ruang publik, ruang privat atau servis.

Barangkali pemahaman saya kurang tepat dalam menjelaskan teori yang dideskripsikan lewat gambaran ini. Namun kalau memang ada indikasi hubungan, bisa saja kan mengaitkan tayangan tv dengan sebuah teori atau sebaliknya, sebuah teori dihubungkan dengan tayangan guna memberikan sedikit pencerahan. Kita pun boleh jadi bisa mengkaji dan memahami lebih jauh no architecture without space, event and movement-nya Bernard Tschumi lewat variety show seperti ini. Tapi baiklah sampai di sini saya tidak akan membuat tayangan di waktu selo ini seolah menjadi serius dan berkesan ilmiah, tonton saja lah kalau membuat penasaran..:)

Bersambung..