Sunday, March 30, 2014

Sudut Bangunan dan Kualitas Perancang


Wajah depan Masjid Salman ITB, Ir. Achmad Noe'man (1963).
Ketika berkunjung ke kampus ITB untuk suatu urusan di pertengahan 2010. Saya baru tahu kalau Masjid Salman terletak tepat di seberang kampus arsitektur Jalan Ganesha. Saya sempatkan untuk beribadah di masjid ini, yang sebelumnya hanya saya lihat di majalah atau internet. Sendiri kemudian saya mengapresiasi desain Pak Achmad Noe'man ini dari dalam hingga keliling luar; selubung persegi, sederhana dan proporsional-dalam arti tidak dilebih-lebihkan atau kekurangan-dalam desain. Selubung bangunan di keempat sisinya diselesaikan dengan baik dan khusus seolah tanpa pengecualian dengan menyesuaikan fungsi interior dan respon lingkungan luarnya.

Kemudian saya lebih detail lagi ke arah sudut bangunan. Ketika melihat susunan dinding roster merah yang bertemu di sudut tiang, dari sini saya membatin; kiranya arsitek yang baik itu terlihat dari penyelesaiannya pada bagian sudut bangunan, sudut-sudut bangunan terpikir oleh saya menentukan kualitas si arsitek. Perancang-perancang bangunan sering terjebak pada permainan facade utama saja dan melewatkan bagian sudut yang sekedar terputus atau penyelesaian sisa dari kedua sisi yang bertemu, apalagi saat ini ragam material dengan corak bahan dan warna memungkinkan variasi facade yang menonjol. Entah bagaimanapun, sudut kadang-kadang dapat menunjukkan sejauh mana jangkauan kualitas si arsitek terhadap rancangannya.

Masjid Salman: sudut depan bagian utara.
Masjid Salman: sudut depan bagian selatan
Kiranya anggapan ini semakin kuat, kalau kita kembali melihat karya Mies pada Gedung Seagram (1958). Bagaimana beliau sangat menaruh perhatian pada detail. Lekukan baja yang menerus pada luar bangunan adalah bentukan dari tangan Mies sendiri. Hasilnya terlihat sederhana tapi ternyata tidak sederhana dalam pengerjaannya. Kebanyakan arsitek menilai bahwa ide keseluruhan adalah yang paling penting, tapi tidak demikian, detail lah yang membuat bangunan bagus secara keseluruhan, demikian kira-kira ungkapan Philip Johnson, rekan arsitek yang ikut membantu Mies merancang Seagram.


Gedung Seagram, Mies Van Der Rohe (1958).

Sudut Gedung Seagram
Detail sudut Gedung Seagram

Dari kedua contoh bangunan yang bernuansa arsitektur modern di atas, kiranya ada pelajaran yang dapat diambil dari kesederhanaannya, "In der Beschraenkung zeigt sich der Meister". Orang yang tahu membatasi diri membuktikan diri seorang ahli. 

Sumber:
  • Foto Masjid Salman ITB, dokumentasi arsitekemarinsore.
  • Imej Seagram Building, google.
  • American architecture now; philip johnson, with barbaralee diamonstein (1986).
  • Wastu Citra, Dipl. Ing. Y.B. Mangunwijaya (1988).

Friday, January 10, 2014

Prada Transformer Seoul by OMA

Proyek Prada (2002) yang dikerjakan OMA merupakan simbol hubungan kolaborasi antara seni dengan arsitektur, begitu juga fashion dengan arsitektur. Dua bidang yang dulunya terpisah ini, kini menjadi sebuah perpaduan yang tunggal.



Proyek Prada bertujuan mendesain empat even secara efisien. Pada awalnya proyek ini mencoba mengkombinasikan satu atau lebih obyek yang fleksibel. Ketimbang membuat satu paviliun untuk satu even, Rem Koolhaas mengusulkan empat even yang dapat ditampung dalam sebuah paviliun, sehingga menjadi triger dalam memunculkan konsep arsitektur. Namun tidak berhasil karena event satu sama lainnya saling kontradiktif. Akhirnya daripada membentuk kesatuan tunggal yang fleksibel, keadaannya dibuat dengan mendesain denah khusus, denah yang spesifik untuk masing-masing even, kemudian menggabungkannya dalam struktur tunggal yang mirip dengan piramid. Sehingga ketika suatu even aktif maka denah dapat diganti, demikian ketika even yang lain berlangsung. 



Dengan demikian paviliun ini tidak hanya memiliki satu identitas namun empat identitas yang berbeda yang pada dasarnya diperoleh dengan memutar paviliunnya. Obyek ini diangkat dengan crane, diputar di atas kemudian diletakkan di bawah. Yang menarik adalah ketika seseorang berdiri di dalam paviliun, maka dia akan selalu melihat lantai dari even yang lain, seolah seperti memori yang mendefinisikan ruang. Seperti contoh pada ruang cinema. Pada fungsi cinema mengambil bagian dari fungsi fashion show sebagai tempat kabin projection. 




Tuesday, December 31, 2013

Memahami 'Encounter Space' Lewat Running Man

Pertengahan 2013 kemarin saya mengulik kembali elemen dasar dari arsitektur, yakni ruang. Begitu esensinya ruang (space) dalam arsitektur hingga Bernard Tschumi 'mematenkan' ruang sebagai dasar teori dan praktik arsitekturnya dalam pernyataan, there is no architecture without space, tiada arsitektur tanpa ruang

Ketika membaca jurnal berjudul the architecture of the urban object, Bill Hillier menyebutkan: 'space is used sometimes to generate and sometimes to restrict the field of encounter of human beings and their symbols'. Lagi saya menemukan kata 'encounter' yang selalu mendefinisikan peran dari 'space'. Kalimat field of encounter of human beings.., menjadi perhatian saya untuk memahami tentang ruang, tempat bertemunya aktifitas orang, baik dalam skala ruang arsitektur maupun skala ruang kota. Di Kamus Oxford yang saya punya, encounter adalah (v) meet sth/sb difficult or unexpected, (n) unexpected (esp unpleasant) meeting. Dari terjemahan itu pengertian 'encounter' kemudian saya pahami tidak sebatas ruang sebagai tempat bertemu saja, tapi lebih jauh jenis pertemuannya adalah tidak terduga, dan tidak diharapkan karena sesuatu yang tidak menyenangkan.

RM program opening (feat. Jackie Chan dan Shi won)
Di saat yang sama, saya lagi seru-serunya mengikuti variety show Korea, Running Man. program acara yang isinya permainan, biasanya kejar-kejaran antar peserta yang mengambil tempat-tempat di dalam bangunan-bangunan landmark atau pusat keramaian di dalam kota, seperti gedung kantor berlantai banyak, mall, museum, pasar tradisional, kampus, pabrik, galeri dan beberapa ruang outdoor seperti koridor jalan dan tempat lapangan. Tidak hanya seru dan lucu, secara langsung dan tidak sengaja saya pikir acara ini malah memberikan dukungan pemahaman dari pengertian apa itu ruang sebagai tempat bertemunya orang-orang (space is as field of encounter of human beings) dalam arti yang lebih gamblang atau kalau bisa dibilang sebagai contoh yang ekstrim. 




Unpredicted meetings end up in unpredicted spaces. RM episodes
Hubungan antar ruang menggerakkan pemain-pemain yang saling mengejar satu sama lain dari ruang-ruang yang ramai hingga ke ruang-ruang sepi menciptakan adegan yang tak terduga ketika para pemain saling bertemu. Saya kira di Running Man ruang menjalankan perannya di luar rencana ideal yang dibuat si perencana gedung. Karena di sini ruang-ruang dari hall, koridor, lift, tangga darurat, ruang kerja, gundang, kamar tidur, roof top dll dieksplor para pemakai, 'diobrak-abrik', 'ditelanjangi', dimanfaatkan tidak sesuai fungsi dan aktifitas yang sudah 'diprogramkan', sehingga menciptakan 'encounter-encounter' dari kejadian yang tak terduga. Ruang  dengan demikian melalui hubungan antar ruang terlihat secara murni berperan dalam fungsinya sebagai penggerak kegiatan, pencipta kejadian tak terduga, terlepas dia berstatus ruang publik, ruang privat atau servis.

Barangkali pemahaman saya kurang tepat dalam menjelaskan teori yang dideskripsikan lewat gambaran ini. Namun kalau memang ada indikasi hubungan, bisa saja kan mengaitkan tayangan tv dengan sebuah teori atau sebaliknya, sebuah teori dihubungkan dengan tayangan guna memberikan sedikit pencerahan. Kita pun boleh jadi bisa mengkaji dan memahami lebih jauh no architecture without space, event and movement-nya Bernard Tschumi lewat variety show seperti ini. Tapi baiklah sampai di sini saya tidak akan membuat tayangan di waktu selo ini seolah menjadi serius dan berkesan ilmiah, tonton saja lah kalau membuat penasaran..:)

Bersambung..

Friday, July 19, 2013

Kisho Kurokawa: Konsep Simbiosis Rumah Suku Badui di Al-Sarir Libya

Kisho Kurokawa adalah tokoh arsitek jepang yang dikenal dengan filosofi arsitektur ‘simbiosis’. Proyek rumah untuk suku badui di Libya merupakan salah satu kesempatan dimana Kisho dapat menerapkan filosofinya tersebut ke dalam desain. Proyek ini dimulai ketika Kisho diundang seorang petinggi negara untuk melihat perumahan yang baru-baru itu telah dibangun dengan menugasi seorang arsitek amerika. Namun perumahan itu dinilai tidak berhasil baik. Dari kunjungan itu kisho mendapati pemandangan aneh deretan perumahan beton dua lantai bergaya amerika, berdiri di tengah suasana gurun pasir arab dimana setiap unit rumah dilengkapi dengan AC dan garasi.

Permasalahan

Kisho melihat orang badui tidak menempati unit tersebut. Mereka meletakkan tenda tempat mereka tinggal di sebelah perumahan dan meletakkan ternak dan persediaan makanan di dalam unit bangunan. AC yang dipasang di gurun dengan suhu empat puluh derajat celcius tidak akan memberikan pengaruh dan malah akan rusak. Ketika rusak, perbaikan akan memerlukan waktu setidaknya sebulan. Sementara, setiap saat kotak beton unit hunian tersebut adalah ‘oven’ dimana panas yang diserap seharian tidak akan hilang meskipun malam sudah dingin sehingga tetap memanggang orang di dalamnya. Oleh karena itu orang badui lebih memilih tinggal di tenda dan membiarkan unit hunian bergaya california tersebut diisi oleh ternak dan persediaan makanan mereka.

Pendekatan

Ketika melihat tenda orang badui, dia melihat betapa serasinya mereka tinggal di gurun. Ketika temperatur permukaan gurun meningkat atau turun secara ekstrim, hampir tidak ada perbedaan temperatur di bawah permukaan tanah. Ketika udara panas naik empat puluh derajat celcius di siang hari, temperatur hanya dua puluh derajat di level tiga meter di bawah permukaan tanah. Ketika udara dingin di malam hari pun masih tetap dua puluh derajat di kedalaman tiga meter di bawah permukaan tanah. Di malam hari orang badui tidur di atas kulit dan pelepah yang diletakkan di tanah. Siang hari,ketika mereka duduk berteduh di tenda mereka, hembusan udara dingin naik dari bawah. Pada malam hari, kehangatan tanah melindungi mereka dari udara malam yang dingin. Orang badui telah mengeksploitasi pengalaman mereka selama berabad-abad untuk mendapatkan kehidupan yang paling nyaman di lingkungan mereka. Dan untuk para expert padang pasir seperti mereka, arsitek amerika justru menawarkan perumahan suburban bergaya california.

Desain self-building

Hal pertama yang dilakukan Kisho adalah mengembangkan material bata pasir. Suku badui telah membuat bata dari lumpur kering yang dijemur, namun tidak cocok untuk hunian yang permanen. Setelah melalui kerjasama riset dengan pusat penelitian ilmiah inggris selama 3 tahun, mereka berhasil mengembangkan proses pembuatan bata berbahan pasir yang kuat dan dapat bertahan hingga beberapa dekade. Ide mereka, hunian tersebut dapat dibangun dengan mandiri oleh pemiliknya dengan menggunakan bata pasir.




Hal yang paling sulit dikerjakan oleh tukang amatir adalah atap, jaringan listrik dan saluran pipa. Khususnya atap kurva bata akan sulit dibangun. Untuk itu atap dibuat tipis dengan material prefabrikasi yang dapat dipasang dan dibaut pada atap rumah. Metode sederhana dikembangkan untuk membuat atap yakni galian lobang pada pasir yang menjadi sebuah cetakan, di dalamnya dituangkan campuran beton dan fiber glas.


Untuk masalah pemipaan, sebuah unit dinding ganda dibuat sebagai saluran servis untuk menempatkan pipa dan perkabelan sehingga perawatannya lebih sederhana. Orang-orang yang membangun hanya perlu meletakkan dapur dan kamar mandi disamping dinding ini, selain itu mereka bebas untuk membangun model rumah yang senangi. Tidak seperti proyek perumahan umum, setiap rumah dari kamunitas ini dapat memiliki desain dan tata ruang yang diinginkan pemilik dan dapat berbeda dengan tetangganya.

Hasil percobaan untuk membangun/memasang sebuah rumah yang melibatkan tukang amatir membutuhkan waktu tiga minggu. Meskipun pembangunan belum sempurna tanpa finishing, rumah tersebut dapat dibangun seluruhnya oleh para amatir dengan benar.

Rumah-rumah yang didesain Kisho memiliki satu bagian yang menonjol, yakni menara angin. Menara angin ini seperti cerobong dengan ketinggian lima belas meter. Ketika angin menghembus ke atas menara, udara hangat di dalam rumah dihisap dan radiasi udara dingin dari lantai ditarik ke atas untuk mendinginkan ruang dalam. Desain ini mengekploitasi pola gerakan udara alami di pada pasir, yang mana orang badui telah memanfaatkannya dengan sangat baik pada tenda mereka.

Dari dogma modernisme menuju filosofi simbiosis

Ketika Kisho bertemu dengan arsitek amerika yang mendesain sebelumnya, dia bertanya mengapa dia mendesain bangunan yang tidak dapat ditinggali, si arsitek menjawab bahwa dia dari awal telah mengira orang badui tidak dapat tinggal di rumah tersebut, namun pada akhirnya orang-orang negara berkembang seperti orang badui harus mengganti unta mereka dengan mobil dan tenda mereka dengan rumah seperti kehidupan modern. Karena itu sangat penting untuk mengajarkan mereka secepat mungkin, dan melatih mereka untuk hidup dalam perumahan tersebut adalah satu langkah untuk mencapai tujuan itu. Kisho menilai pandangan ini adalah dogma dari modernisme, berdasarkan nilai dari barat. Menurut pemkiran ini fungsionalisme dan teknologi yang diciptakan masyarakat industri eropa telah meningkatkan kualitas hidup manusia, lambat laun akan menyebar ke seluruh bumi. Semua budaya baik china dan asia lainnya atau negara-negara berbudaya islam berada di bawah panji peradaban barat.

Namun kenyataannya hidup manusia lebih kaya jika setiap wilayah memilki identitas dan budaya sendiri yang cocok dengan orangnya, iklim, kondisi wilayah dan sejarahnya. Negara-negara dan orang yang berbeda harus saling mengenali perbedaan mereka, kemudian mencari jalan kerjasama untuk saling menstimulasi. Seperti pada kasus komunitas di sarir merupakan pertemuan antara orang  negara industri dengan teknologi maju terbaru dengan budaya gurun dari arab. Keilmuan dari barat yang memiliki teknologi maju memungkinkan dibuatnya bata dari pasir muncul sebagai simbiosis dengan kearifan lokal gurun pasir.

Sumber:
Kisho kurokawa- each one a hero-the philosophy of symbiosis, chapter 7